Selasa, 25 Oktober 2011

Pengaruh pH terhadap kualitas air

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam kehidupan di era modern ini semakin banyak jumlah penduduk di dunia begitu pula semakin banyak kebutuhan yang di perlukan baik itu sandang, pangan dan papan. Khususnya dari sektor pangan, semakin banyak permintaan di pasar apalagi menu seafood.
Dengan bertambahnya angka penduduk ini, akan berdampak pula pada keberlangsungan sumber daya alam baik itu hayati maupun non-hayati, baik itu yang bersifat renewable maupun yang non-renewable. Karena akan semakin banyak orang yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Untuk mengatasi permasalahan ini, kini telah di kembangkan program pengelolaan budidaya laut dengan tujuan untuk menghadapi naiknya permintaan dari kebutuhan manusia dan tidak bertentangan pula dengan program konservasi terhadap sumberdaya hayati.
Dalam proses budidaya ini terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan dimulai dengan pemilihan tempat lokasi hingga memperhitungkan parameter-parameter yang dapat mempengaruhi proses budidaya, salah satunya pengaruh pH terhadap budidaya.

1.2. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar pembaca dapat melakukan budidaya dengan baik salh satunya dengan memperhatikan pH.

1.3. Manfaat
Dalam proses bididaya akan mendapatkan hasil yang optimal dan memuaskan .



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Budidaya Laut
Budidaya laut merupakan salah satu usaha perikanan dengan cara pengembangan sumber-dayanya dalam area terbatas baik di alam terbuka maupun tertutup. Tempat untuk budidaya laut, demikian pula untuk air tawar, harus mempunyai fasilitas alami tertentu, terutama persediaan air yang sangat cukup, dengan suhu, salinitas dan kesuburan yang sesuai (BARDACH et al. 1972 ). Dalam hal ini penting diperhatikan pula bahwa pengusaha budidaya menjalankan pengawasan melalui pemilikan, hak sewa menyewa atau cara lain untuk menjalankan pengawasan. Di Laut sistem demikian menimbulkan masalah, karena orang masih mempunyai pandangan bahwa laut adalah milik kita bersama.
Sementara itu masalah penyediaan air bagi budidaya laut tidak sulit dan bahkan tidak ada. Hal ini tentunya berbeda dengan budidaya air tawar dan air payau yang dalam banyak hal harus memperhatikan tersedianya sumber air seperti sungai, danau, atau pasang surut yang mengatur secara alami keluar-masuknya air dari laut. Namun pertama-tama sangat diperlukan adalah kualitas air yang cocok bagi kehidupan normal yang dibudidaya. HICKLING ( 1962 ) menyebutkan misalnya bahwa dalam kolam ikan, air yang bersifat netral atau basa nampak lebih produktif daripada air bersifat asam. Air laut normal selalu bersifat basa dan kondisi demikian diperlukan bagi kehidupan biota laut. Faktor-faktor lain yang mensifati kualitas air laut antaranya adalah salinitas, suhu dan kandungan oksigen.
Budidaya laut adalah budidaya biota laut yang hidup dalam air laut. Ini berarti bahwa air laut merupakan medium dimana biota laut tersebut hidup, tumbuh dan berbiak lebih baik daripada rekan-rekannya yang tidak dibudidayakan.



2.2. Manajemen Kualitas Air
Air merupakan media paling vital (penting) dalam kehidupan ikan. Selain jumlahnya, kualitas air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi syarat untuk mencapai air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi syarat untuk mencapai kondisi air yang optimal sebagai salah satu kunci keberhasilan budidaya ikan.
Manajemen kualitas air adalah Suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam kondisi baik untuk budidaya ikan dengan memperhatikan faktor fisik, kimia dan biologinya.
 Parameter Kualitas Air
• Fisika
Suhu, Cahaya, Kecerahan, Warna air, Kekeruhan, Padatan tersuspensi
• Kimia
pH, DO (oksigen terlarut), amonia, CO2 dan Nitrogen
• Biologi
Plankton dan bakteri

2.3. Derajat Keasaman (pH)
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5.
Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Ph adalah tingkatan yang menunjukan asam atau basanya suatu larutan yang di ukur pada skala 0 – 14. Tinggi atau rendahnya pH air dipengaruhi oleh senyawa / kandungan dalam air tersebut. Faktor yang mempengaruhi pH air yaitu sisa-sisa pakan dan kotoran yang mengendap di dasar kolam. Selain itu juga berasal dari kandungan CO2 yang tinggi hasil pernafasan (terjadi menjelang fajar sampai pagi hari).
Dampak perubahan pH :
 Terganggunya proses metabolisme ikan
 Ikan mudah terserang penyakit
 Pertumbuhan menurun, stress
 pH tinggi dapat meningkatkan kandungan ammonia sehingga kualitas air terganggu.
Cara mengatasi pH air, diantaranya yaitu :
 sebelum pengisian air, kolam dikeringkan kemudian diberi kapur secara merata
 dilakukan pengendapan sebelum air dimasukkan ke dalam kolam
 penggantian air untuk membuang sisa-sisa pakan dan kotoran dari dasar kolam agar pH kembali normal.
Kisaran pH air tambak udang yang optimum adalah 7,5-8,5. Pengukuran pH dilakukan pada pagi pukul 05.00 (sebelum matahari terbit) dan sore hari sekitar pukul 16.00. Nilai fluktuasi pH pagi dan sore hari dapat digunakan sebagai indikator proses kimia dan biologis. Pada waktu malam hari semua biota dalam air melakukan respirasi menghasilkan CO2 sehingga nilai pH turun. Sebaliknya pada siang hari terjadi proses fotosintesa oleh phytoplankton, makroalga dan tanaman air lainnya dengan menggunakan CO2 sehingga menyebabkan nilai pH naik.
Kisaran optimal fluktuasi nilai pH air pagi dan sore adalah 0,2-0,5. Fluktuasi nilai pH harian yang lebih dari 0,5 menunjukan bahwa karbonat dalam air sebagai penyangga adalah kurang. Sebaliknya bila fluktuasi kurang dari 0,2 atau bahkan sore hari sama dengan pagi hari, menunjukkan fotosintesis tidak berjalan normal. Kondisi lingkungan lebih berbahaya bila nilai pH pagi lebih tinggi dari sore hari.
Fluktuasi harian kandungan oksigen terlarut ditentukan kepadatan biota yang ada dalam air terutama phytoplankton dan makroalga yang merupakan produsen primer. Untuk menjaga oksigen terlarut tetap pada kondisi optimal adalah dengan memanfaatan proses fotosintesa, penggunaan aerasi dan mengatur jumlah densitas plankton dan tanaman air. Kedalaman air optimal tambak sederhana yang tidak menggunakan aerasi adalah 2 x nilai kecerahan.
Hubungan pH dengan suhu adalah derajat keasaman air pH = -log (H)+. Ukuran konsentrasi ion Hidrogen (mol per Liter) menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan.
Catatan :
- Air (H2O) berasosiasi sempurna – ion H+ dan OH- berimbang,
- pH air murni = 7
- Semakin tinggi konsentrasi ion H+ konsentrasi ion OH- rendah
- pH <7, pH asam - Berkaitan dengan proses fotosintesis dan respirasi organisme CO2 + H2O  H2CO3 H + + HCO3  2H ++ CO32- - Semakin banyak CO2 yang di hasilkan dari respirasi maka :  reaksi bergerak ke kanan  pelepasan ion H+  pH air turun (cenderung asam) - Penurunan / penggunaan CO2 dalam fotosintesis oleh fitoplankton, maka :  pH air naik (cenderung basa) - pH rendah (keasaman tinggi)  penurunan oksigen terlarut  konsumsi oksigen terlarut  peningkatan aktivitas pernapasan  penurunan selera makan - rentang toleransi pH : 6,5 – 9,0 - pH optimal : 7,0 – 8,5 - Fotosintesis (siang hari) menggunakan CO2 - Respirasi (siang – malam) menghasilkan CO2  CO2 terlarut tinggi pada malam hari (pH cenderung rendah) Hubungan pH dan kehidupan hewan (ikan) budidaya yaitu air laut umumnya bersifat alkalis (pH > 7) karena bergaram, pH air tambak :
- Tanah dasar
- Konsentrasi CO2 terlarut
Pengapuran dapat dilakukan untuk meningkatkan level pH yang terlalu rendah. Dalam sistem sirkulasi, vitrifikasi dan respirasi pada ikan dan biofilter bakteri dapat menurunan pH. Buffer seperti natrium bikarbonat ditambahkan untuk mencegah penurunan pH.



BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah dibahas di atas, maka dapat di simpulkan bahwa :
 Budidaya laut merupakan salah satu usaha perikanan dengan cara pengembangan sumber-dayanya dalam area terbatas baik di alam terbuka maupun tertutup.
 Manajemen kualitas air adalah Suatu usaha untuk menjaga kondisi air tetap dalam kondisi baik untuk budidaya ikan dengan memperhatikan faktor fisik, kimia dan biologinya.
 pH adalah tingkatan yang menunjukan asam atau basanya suatu larutan yang di ukur pada skala 0 – 14.
 Perubahan pH akan memberikan dampak terhadap pengelolaan budidaya seperti :
o Pertumbuhan menurun akibat ikan stress
o Mudah terkena penyakit
o Proses metabolism ikan terganggu
o Ketika pH tinggi maupun rendah akan mengurangi kualitas air
 Dalam sistem sirkulasi, vitrifikasi dan respirasi pada ikan dan biofilter bakteri dapat menurunan pH. Buffer seperti natrium bikarbonat ditambahkan untuk mencegah penurunan pH.




DAFTAR PUSTAKA

KANTOR MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1984. Bahan penyusunan RPP baku mutu air laut untuk mandi dan renang, biota laut, dan budidaya biota laut; Lokakarya Buku Mutu Lingkungan Laut, Bogor, 23 – 25 Februari 1984.
Rahardjo, B.B., & T.Winanto, 1997. Pemilihan Lokasi Budidaya Ikan di Laut. Buletin Budidaya Laut. No.11 hal 35-43
Romimohtarto, kasijan.___.Kualitas Air Dalam Budidaya Laut.
http://www.scribd.com/Manajemen-Kualitas-Air-Untuk-Perikanan/d/17022707 (diakses tanggal 9 November 2010 )
http://www.2dix.com/pdf-2010/dampak-ph-tinggi-terhadap-budidaya-pdf.php (diakses tanggal 9 November 2010 )
http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/24/kualitas-air-laut-untuk-budidaya-perikanan/ (diakses tanggal 9 November 2010 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar